Rabu, 10 Desember 2014

Ronggo Warsito


              Dari karya-karya Ronggowarsito, akan kelihatan bahwa pemikirannya banyak dipengaruhi oleh kepustakaan Islam kejawen, tradisi dan kepustakaan Jawa.  Pembahasan dan pemikiran Ronggowarsito, terpusat untuk merumuskan kembali pokok-pokok pemikiran yang terdapat dalam perbendaharaan kepustakaan Jawa dan Islam kejawen. Sehingga karya-karya Ronggowarsito pada umumnya mencerminkan perpaduan antara alam pikiran Jawa dengan ajaran Agama Islam. Karena kehidupan Ronggowarsito dan pujangga-pujangga Jawa pada umumnya berada dalam kedua lingkungan kebudayaan tersebut, sesudah zaman kerajaan Jawa-Islam. Walaupun pada hari-hari tuanya Ronggowarsito banyak bergaul dengan sarjana-sarjana Belanda yang mempunyai perhatian terhadap bahasa dan kebudayaan Jawa, seperti dengan C.F. Winter, Cohen Stuart dan sebagainya. Tetapi, pergaulan ini tidak banyak memberi bekas dalam pemikiran Ronggowarsito.

Ronggowarsito yang hidup semenjak tahun 1802 sampai tahun 1873, dengan sendirinya mengalami berbagai macam pergolakan dan perubahan-perubahan suasana politik dalam lingkungan istana.  Setiap perubahan sikap politik dalam hubungan dengan pemerintahan kolonial Belanda, langsung atau tidak langsung pasti mempengaruhi kedudukan pejabat-pejabat istana.

Karena melihat korupsi yang terjadi di istana dan masyarakat, serta berbagai tindakan amoral dan keadaan yang memprihatinkan di masyarakatnya, Ronggowarsito yang berperan sebagai pujangga istana serta penyambung lidah rakyat kemudian menuliskan keadaan zamannya tersebut dalam bentuk karya sastra.

Menurut Ronggowarsito, ada tiga macam pembagian zaman. Yakni zaman edan atau Kalatidha yaitu ditandai dengan adanya pola pikir yang salah. Hal ini diungkapkan dalam Serat Kalatidha sebagai berikut:

Amenangi jaman edan/ewuh aya ing pambudi/melu edan nora tahan/yen tan melu anglakoni/boya kaduman melik/kaliren wekasanipun/dilalah karsa Allah/begja-begjane kang lali/luwih begja kang eling lawan waspada.

Artinya:
Mengalami zaman gila, serba sulit dalam pemikiran, ikut menggila tidak tahan, kalau tidak ikut (menggila), tidak (akan) mendapat bagian, akhirnya (mungkin) kelaparan, (tetapi) takdir kehendak Allah, sebahagia-bahagianya (orang) yang lupa, (masih) bahagia yang sadar dan waspada.


Ronggowarsito, Islam dan KejawenIslam dan Mistisisme Nusantara
Islam bercorak mistik dianggap sebagai ciri khas Islam di Nusantara. Keberhasilan Islam menebarkan ajaran yang damai dan mudah diterima bersebab ia menyerap pelbagai anasir mistisisme setempat yang sudah lebih dulu ada, di samping mempertahankan watak asalinya. Karya-karya sastra klasik di Nusantara, bahkan yang lebih kemudian—seperti yang ditulis Hamzah Fansuri, Ronggowarsito, dan Hasan Mustapa—menampilkan bagaimana mistisisme Islam bersenyawa dengan lokalitas, dan kitab-kitab tersebut hingga kini masih menjadi acuan para penempuh jalan mistik atau kaum kebatinan.
Hamzah Fansuri adalah seorang ulama sufi dan sastrawan yang hidup di abad ke-16 dan ke-17 di Kesultanan Aceh. Karya-karyanya, antara lain Syair Perahu, dikenal berpaham wahdatul wujud (panteisme). Ajaran tasawufnya sangat dipengaruhi, antara lain, oleh pemikiran Ibnu Arabi dan Al-Hallaj. Sementara Ronggowarsito adalah pujangga besar Jawa yang hidup di Kasunanan Surakarta pada abad ke-19. Ia menulis sejumlah kitab tasawuf, seperti Serat Kalatida dan Wirid Hidayat Jati. Adapun Hasan Mustapa adalah ulama dan pujangga besar Sunda. Karyanya yang terkenal adalah 10.000 bait dangding yang membahas Suluk, terutama tentang hubungan antara hamba (kawula) dengan Tuhan (Gusti), yang dianggap berpaham wahdatul wujud.
Kuliah ini akan menampilkan pembicara Abdul Hadi W.M., penyair dan pengajar di Program Studi Falsafah dan Agama Universitas Paramadina, Jakarta, Herman Sinung Janutama, penelaah manuskrip Jawa, dan Hawe Setiawan, penelaah sastra Sunda dan pengajar di Universitas Pasundan, Bandung.
Pada awal 90-an, saya pernah membaca sebuah buku yang di dalamnya ada kutipan puisi:
East is East and West is West, and never the twain shall meet (Timur adalah Timur dan Barat adalah Barat dan keduanya tidak akan pernah bertemu).
Puisi itu ditulis abad ke 19 M oleh Rudyard Kipling, seorang sastrawan Inggris kelahiran India.  Puisi berjudul The Ballad of East and West itu sangat terkenal. Terutama karena rangkaian kata-katanya dijadikan semboyan kolonialis Eropa untuk menancapkan kaki penjajahan di benua Asia dan Afrika.
Pesan terselubung dibalik rangkaian puisi adalah: ras bangsa Barat (ketika itu khususnya Eropa) dan ras bangsa Timur (Asia dan Afrika) selamanya akan berbeda secara mendasar yang tidak akan pernah bisa disatukan. Dan kedudukan ras Barat lebih tinggi dari ras Timur.

Rangkaian kata dalam puisi itu menjadi semacam kekuatan ras Barat dalam melegitimasi penjajahan dan penjarahan terhadap kekayaan dan harta milik ras Timur. Itulah yang menjadi dasar penjajahan Bangsa Eropa terhadap sesamanya di Asia dan Afrika.
Setelah Perang Dunia Kedua berakhir, maka Barat dan Timur menyatu hingga kini. Tidak ada lagi pemisah antara ras Barat dan ras Timur. Kedua ras ini berada dalam kedudukan sederajat dalam menghuni Bumi. (Sepintas lalu, pesan puisi tadi kehilangan relevansinya. Tetapi kenyataannya tidak demikian).
Mitos
Kolonialisme yang terjadi hingga pertengahan abad ke 20 bukan hanya dalam bentuk penjajahan secara fisik, melainkan penjajahan pikiran. Inilah yang menjadi persoalan. Meskipun Negara kita sudah merdeka (yang ditandai dengan Proklamasi 17 Agustus 1945), tetapi alam pikiran kita belum bebas dari sisa-sisa penjajahan tempo dulu. Tentu saja tanpa kita sadari.
Penjajahan pikiran ini antara lain tercermin dalam berbagai mitos yang berkembang di negeri ini, baik mitos terhadap tokoh (Sukarno, Pangeran Diponegoro, dan lain-lain), mitos terhadap tempat (makam keramat, Gunung angker, dan lain-lain), mitos terhadap benda purbakala (candi, menhir, keris dan lain-lain).
Harus diakui, penilaian terhadap mitos itu relatif: ada mitos baik, mitos buruk, mitos benar dan mitos salah. Atau dengan kata lain, apapun mitos yang selama ini berkembang di masyarakat masih tetap dapat diperdebatkan nilai dan fungsinya.
Tulisan ini sekilas mengulas seputar mitos terhadap seorang putra terbaik yang pernah dimiliki bangsa ini yang namanya sangat fenomenal: Raden Ngabehi Ronggowarsito (1802-1873).
Sosok fenomenal ini dikenal karena kecerdasan supranaturalnya yang jauh di atas orang-orang cerdas supranatural pada masanya. Bahkan hingga kini, kecerdasan supranaturalnya belum tertandingi siapapun.
Dalam berbagai buku, makalah, seminar, skripsi, disertasi, tulisan di internet dan ulasan berbagai media, senantiasa menempatkan Ronggowarsito sebagai pujangga dan peramal terbaik yang pernah dimiliki bangsa ini.
Ronggowarsito terkenal karena karya-karyanya mengandung bermacam ramalan hingga ratusan tahun ke depan. Berikut petikannya:
Amenangi zaman edan,
Ewuh aya ing pambudi,
Milu edan nora tahan,
Yen tan milu anglakoni,
Boya kadumen melik,
Kaliren wekasanipun,
Ndilalah kersa Allah,
Begja begjane kang lali,
Luwih begja kang eling klawan waspada,
Maknanya:
Menyaksikan zaman gila,
Serba susah dalam bertindak,
Ikut gila tidak akan tahan,
Tapi kalau tidak mengikuti (gila),
Tidak akan mendapat bagian,
Kelaparan pada akhirnya,
Namun telah menjadi kehendak Alloh,
Sebahagia-bahagianya orang yang lalai (lupa),
Akan lebih bahagia orang yang tetap ingat dan waspada.
Karya-karya Ronggowarsito yang terkenal diantaranya: Serat Kalatida berisi gambaran penjajahan yang disebut Zaman Edan. Serat Jaka Lodang berisi ramalan datangnya Zaman Baik dan Serat Sabdatama yang berisi ramalan tentang sifat Zaman Makmur dan Perilaku Manusia yang Tamak.Bahkan menjelang akhir hayatnya, beliau menulis Serat Sabdajati yang diantaranya berisi ramalan saat kematiannya sendiri.
Tetapi, nanti dulu. Sosok fenomenal yang namanya selalu diidentikkan dengan julukan peramal ini tampaknya tidak sesuai lagi disematkan pada Ronggowarsito. Julukan peramal adalah mitos menyesatkan yang (dengan atau tanpa sengaja) tertanam kuat di dalam benak masyarakat. Dengan kata lain, Ronggowarsito memiliki kecerdasan yang lebih dari sekadar seorang peramal. Ronggowarsito adalah filsuf besar Nusantara.

Mengenali Ronggowarsito sebagai Filsuf: Ketika Pemikiran Filsafat Dianggap Ramalan

Buah pikir para tokoh nusantara kerapkali hanya dianggap sebagai klenik atau ramalan. Anggapan ini tentu tidak bisa diamini begitu saja mengingat pemikiran para tokoh nusantara tersebut sebenarnya menunggu untuk disistematisasi oleh para penanggap atau komentatornya untuk ditafsir ulang dan ditempatkan pada konteks-konteks tertentu.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar