NAMA : FANNI FAIRANI
PGSD 3/A – 2
REVISI FILSAFAT ILMU
PERENIALISME
DALAM PEMBENTUKAN MENTAL PENDIDIDKAN
Dalam bidang
pendidikan perennialisme sangat dipengaruhi oleh tokoh-tokohnya, seperti Plato,
Aristoteles dan Thomas Aquinas. Menurut Plato, manusia secara kodrat memiliki
tiga potensi yaitu nafsu, kemauan dan pikiran, Pendidikan hendaknya
berorientasi pada potensi itu dan kepada masyarakat, agar supaya kebutuhan yang
ada pada setiap lapisan masyarakat bisa terpenuhi.Dengan
demikian jelaslah bahwa perenialisme itu menghendaki agar pendidikan
disesuaikan dengan keadaan manusia yang mempunyai nafsu, kemauan dan pikiran
sebagaimana yang dimiliki secara kodrat. Dengan memperhatikan hal ini, maka pendidikan
yang berorientasi pada potensi dan masyarakat akan dapat terpenuhi.
Ide-ide Plato
ini kemudian dikembangkan oleh Aristoteles dengan lebih mendekatkan kepada
dunia kenyataan, Bagi Aristoteles tujuan pendidikan adalah
"kehahagiaan". Untuk mencapai pendidikan itu, maka aspek jasmani,
emosi dan intelek harus di kembangkan secara seimbang. Sejalan dengan uraian di
atas, Zuhairini Arikunto juga berpendapat dalam bukunya Filsafat Pendidikan
Islam, mengatakan tujuan pendidikan yang dikehendaki oleh Thomas Aquinas ialah
sebagai usaha mewujudkan kapasitas yang ada dalam individu agar menjadi
aktualitas, aktif dan nyata, dalam hal ini peranan guru adalah mengajar dan
memberikan bantuan pada anak didik untuk mengembangkan potensi-potensi yang ada
padanya.
Menurut Robert
Hutchkins bahwa manusia adalah animal rasionale, maka tujuan pendidikan adalah
mengembangkan akal budi supaya anak didik dapat hidup penuh kebijaksanaan demi
kebaikan hidup itu sendiri. Oleh karenanya tujuan pendidikan di sekolah perlu
sejalan dengan pandangan dasar di atas, mempertinggi kemampuan anak untuk
memiliki akal sehat.
Dapatlah
disimpulkan bahwa tujuan dari pada pendidikan yang hendak dicapai oleh para
ahli tersebut di atas adalah untuk mewujudkan agar anak didik dapat hidup
bahagia demi kebaikan hidupnya sendiri. Jadi dengan akalnya dikembangkan maka
dapat mempertinggi kemampuan akal pikirannya. Dari prinsip-prinsip pendidikan
perenialisme tersebut maka perkembangannya telah mempengaruhi sistem pendidikan
modern, seperti pembagian kurikulum untuk sekolah dasar, menengah, perguruan
tinggi. Di zaman kehidupan modern ini banyak menimbulkan krisis diberbagai
bidang kehidupan manusia, terutama dalam bidang pendidikan. Untuk mengembalikan
keadaan krisis ini, maka perenialisme memberikan jalan keluar yaitu berupa
kembali kepada kebudayaan masa lampau yang dianggap cukup ideal dan teruji
ketangguhannya. Untuk itulah pendidikan harus lebih banyak mengarahkan pusat
perhatiannya kepada kebudayaan ideal yang telah teruji dan tangguh. Jelaslah bila
dikatakan bahwa pendidikan yang ada sekarang ini perlu kembali kepada masa
lampau, karena dengan mengembalikan kepada masa lampau ini, kebudayaan yang
dianggap krisis ini dapat teratasi melalui perenialisme karena ia dapat
mengarahkan pusat perhatiannya pada pendidikan zaman dahulu dengan sekarang.
Perenialisme memandang pendidikan sebagai jalan kembali atau proses
mengembalikan keadaan sekarang. Perenialisme memberikan sumbangan yang
berpengaruh baik teori maupun praktek bagi kebudayaan dan pendidikan zaman
sekarang. Dari pendapat ini sangatlah tepat jika dikatakan bahwa perenialisme
memandang pendidikan itu sebagai jalan kembali yaitu sebagai suatu proses
mengembalikan kebudayaan sekarang (zaman modern) in terutama pendidikan zaman
sekarang ini perlu dikembalikan kemasa lampau.
Perenialisme
merupakan aliran filsafat yang susunannya mempunyai kesatuan, di mana
susunannya itu merupakan hasil pikiran yang memberikan kemungkinan bagi
seseorang untuk bersikap yang tegas dan lurus. Karena itulah perenialisme berpendapat
bahwa mencari dan menemukan arah tujuan yang jelas merupakan tugas yang utama
dari filsafat khususnya filsafat pendidikan. Setelah perenialisme menjadi
terdesak karena perkembangan politik industri yang cukup berat timbulah usaha
untuk bangkit kembali, dan perenialisme berharap agar manusia kini dapat
memahami ide dan cita filsafatnya yang menganggap filsafat sebagai suatu azas
yang komprehensif Perenialisme dalam makna filsafat sebagai satu pandangan
hidup yang berdasarkan pada sumber kebudayaan dan hasil-hasilnya.
Pandangan Perenialisme dan Penerapannya
di Bidang Pendidikan. Ilmu pengetahuan merupakan filsafat
yang tertinggi menurut perenialisme, karena dengan ilmu pengetahuanlah
seseorang dapat berpikir secara induktif yang bersifat analisa. Jadi dengan
berpikir maka kebenaran itu akan dapat dihasilkan melalui akal pikiran. Menurut
epistemologi Thomisme sebagian besarnya berpusat pada pengolahan tenaga logika
pada pikiran manusia. Apabila pikiran itu bermula dalam keadaan potensialitas,
maka dia dapat dipergunakan untuk menampilkan tenaganya secara penuh.
Jadi
epistemologi dari perenialisme, harus memiliki pengetahuan tentang pengertian
dari kebenaran yang sesuai dengan realita hakiki, yang dibuktikan dengan
kebenaran yang ada pada diri sendiri dengan menggunakan tenaga pada logika
melalui hukum berpikir metode deduksi, yang merupakan metode filsafat yang
menghasilkan kebenaran hakiki, dan tujuan dari epistemologi perenialisme dalam
premis mayor dan metode induktifnya sesuai dengan ontologi tentang realita
khusus.
Menurut
perenialisme penguasaan pengetahuan mengenai prinsip-prinsip pertama adalah
modal bagi seseorang untuk mengembangkan pikiran dan kecerdasan.
Prinsip-prinsip pertama mampu mempunyai penman sedemikian, karena telah
memiliki evidensi diri sendiri.Dengan pengetahuan, bahan penerangan yang cukup,
orang akan mampu mengenal faktor-faktor dengan pertautannya masing-masing
memahami problema yang perlu diselesaikan dan berusaha untuk
mengadakan
penyelesaian masalahnya. Dengan demikian ia telah mampu mengembangkan suatu
paham.
Anak didik yang
diharapkan menurut perenialisme adalah mampu mengenal dan mengembangkan
karya-karya yang menjadi landasan pengembangan disiplin mental. Karya-karya ini
merupakan buah pikiran tokoh-tokoh besar pada masa lampau. Berbagai buah
pikiran mereka yang oleh zaman telah dicatat menonjol dalam bidang-bidang
seperti bahasa dan sastra, sejarah, filsafat, politik, ekonomi, matematika,
ilmu pengetahuan alam dan lain-lainnya, telah banyak yang mampu memberikan
ilmunisasi zaman yang sudah lampau.
Dengan
mengetahui tulisan yang berupa pikiran dari para ahli yang terkenal tersebut,
yang sesuai dengan bidangnya maka anak didik akan mempunyai dua keuntungan
yakni:
1. Anak-anak
akan mengetahui apa yang terjadi pada masa lamp au yang telah dipikirkan oleh
orang-orang besar.
2. Mereka
memikirkan peristiwa-peristiwa penting dan karyakarya tokoi1tersebut untuk
diri sendiri dan sebagai bahan pertimbangan (reverensi) zaman sekarang.
Jelaslah bahwa
dengan mengetahui dan mengembangkan pemikiran karya-karya buah pikiran para
ahli tersebut pada masa lampau, maka anak-anak didik dapat mengetahui bagaimana
pemikiran para ahli tersebut dalam bidangnya masing-masing dan dapat
mengetahui bagaimana peristiwa pada masa lampau tersebut sehingga dapat berguna
bagi diri mereka sendiri, dan sebagai bahan pertimbangan pemikiran mereka pada
zaman sekarang ini. Hal inilah yang sesuai dengan aliran filsafat perenialisme
tersebut. Tugas utama pendidikan adalah mempersiapkan anak didik ke arah
kemasakan. Masak dalam arti hidup akalnya. Jadi akal inilah yang perlu mendapat
tuntunan kearah kemasakan tersebut. Sekolah rendah memberikan pendidikan dan
pengetahuan serba dasar. Dengan pengetahuan yang tradisional seperti membaca,
menulis dan berhitung anak didik memperoleh dasar penting bagi
pengetahuan-pengetahuan yang lain.
Sekolah sebagai
tempat utama dalam pendidikan yang mempersiapkan anak didik ke arah kemasakan
melalui akalnya dengan memberikan pengetahuan. Sedangkan sebagai tugas utama
dalam pendidikan adalah guru-guru, dimana tugas pendidikanlah yang memberikan
pendidikan dan pengajaran (pengetahuan) kepada anak didik. Faktor keberhasilan
anak dalam akalnya sangat tergantung kepada guru, dalam arti orang yang telah
mendidik dan mengajarkan. Adapun mengenai hakikat pendidikan tinggi ini, Robert
Hutchkins mengutarakan lebih lanjut, bahwa kalau pada abad pertengahan filsafat
teologis, sekarang seharusnya bersendikan filsafat metafisika. Filsafat ini
pada dasarnya adalah cinta intelektual dari Tuhan. Di samping itu, dikatakan
pula bahwa karena kedudukan sendi-sendi tersebut penting maka perguruan tinggi
tidak seyogyanya bersifat utilistis.
Dari ungkapan
yang diutarakan oleh Robert Hutchkins di atas mengenai hakikat pendidikan
tinggi itu, jelaslah bahwa pendidikan tinggi sekarang ini hendaklah berdasarkan
pada filsafat metafisika yaitu filsafat yang berdasarkan cinta intelektual dari
Tuhan. Kemudian Robert Hutchkins mengatakan bahwa oleh karena manusia itu pada
hakikatnya sama, maka perlulah dikembangkan pendidikan yang sama bagi semua
orang, ini disebut pendidikan umum (general education). Melalui kurikulum yang
satu serta proses belajar yang mungkin perlu disesuaikan dengan sifat tiap
individu, diharapkan tiap individu itu terbentuk atas dasar landasan kejiwaan yang
sama.
Sumber:
Tidak ada komentar:
Posting Komentar