Ontologi Perenialisme,
atau sering pula disebut Tradisionalisme, adalah kecenderungan (tren) akademis
yang muncul di Barat awal abad 20 M dan kian mendapatkan momentum di abad ini.
Penamaannya berasal dari tulisan Augostino Steuco (1497-1548) berjudul De
perenni philosophia libri X (1540), sedangkan isi, bentuk dan sistem mapannya
secara historis dibangun oleh René Guénon (1886-1951), Ananda Coomaraswamy (1877-1947),
Frithjof Schuon (1907-1998), serta Aldous Leonard Huxley (1894-1963). Semua
penulis tersebut memanggilnya dengan nama-nama berbeda seperti Sophia Perennis
(Kebijaksanaan Abadi), Religio Perennis (Agama Abadi), Philosophia Perennis
(Cinta Kebijaksanaan Abadi), tapi semua nama itu dapat dirangkum dalam satu
sebutan: Perenialisme.
Kaum
perennialist percaya, bahwa apa yang mereka kembangkan bukanlah hal baru;
mereka hanya mempopulerkan kembali ‘ajaran kuno’, ‘tradisi kuno’, atau ‘agama
kuno’ yang diajarkan ‘nabi-nabi’ atau ‘orang-orang suci’ di zaman dan waktu
dulu. Mereka mempopulerkannya kembali dengan bahasa modern untuk masyarakat
modern yang telah mengalami desakralisasi, dereligisasi, detradisionalisasi,
dan detribalisasi dalam segala aspek peradaban dan kulturnya. Mereka mempunyai
misi suci untuk mengajak orang modern yang telah melupakan agama agar kembali
memeluknya erat-erat. Kata Aldous Huxley: terdiri dari pengertian-pengertian
seperti benda individul, esensi, aksiden dan substansi. Perennialisme
membedakan suatu realita dalam aspek-aspek perwujudannya menurut istilah ini.
Benda individual disini adalah benda sebagaimana nampak dihadapan manusia dan
yang ditangkap dengan panca indera seperti batu, lembu, rumput, orang dalam
bentuk, ukuran, warna dan aktifitas tertentu.Misalnya bila manusia ditinjau
dari esensinya adalah makhluk berpikir. Adapun aksiden adalah keadaan-keadaan
khusus yang dapat berubah-ubah dan yang sifatnya kurang penting dibandingkan
dengan esensial, misalnya orang suka bermain sepatu roda, atau suka berpakaian
bagus, sedangkan substansi adalah kesatuan dari tiap-tiap individu, misalnya
partikular dan universal, material dan spiritual, ada segala yang ada di alam
semesta ini seperti halnya manusia, batu bangunan dasar, hewan, tumbuh-tumbuhan
dan sebagainya merupakan hal yang logis dalam karakternya. Setiap sesuatu yang
ada, tidak hanya merupakan kombinasi antara zat atau benda tapi merupakan unsur
patensialitas dengan bentuk yang merupakan unsur aktualitas sebagaimana yang
diutarakan aleh Aristateles tetapi ia juga merupakan sesuatu yang datang
bersama-sama dari sesuatu "apa" yang terkandung dalam inti (essence)
dan potensialitas dengan tindakan untuk "berada" yang merupakan unsur
aktualitas sebagaimana yang diungkapkan oleh ST. Thomas Aquinas.
Uraian di atas
sejalan dengan apa yang dikatakan I.R Poedjawijatna bahwa esensi dari pada
kenyataan itu adalah menuju ke arah aktualitas, sehingga makin lama makin jauh
dari patensialitasnya. Bila dihubungkan dengan manusia, maka manusia itu setiap
waktu adalah patensialitas yang sedang berubah menjadi aktualitas. Misalnya
meskipun manusia dalam hidupnya jarang dikuasai oleh sifat eksistensi
kemanusiaan, tidak jarang pula dimilikinya akal, perasaan dan kemauannya,
Schula ini dapat dikurangi. Hal-hal yang bersifat partikular yang merintangi
kehidupan dapat diatasi. Maka dengan peningkatan suasana hidup spiritual ini
manusia dapat makin mendekatkan diri kepada gerak yang tanpa gerak itu, ialah
tujuan dan bentuk terakhir dari segalanya.
Jadi dengan
demikian bahwa segala yang ada di alam ini terdiri dari materi dan bentuk atau
badan dan jiwa yang disebut dengan substansi, bila dihubungkan dengan manusia
maka manusia itu adalah patensialitas yang di dalam hidupnya tidak jarang
dikuasai oleh sifat eksistensi keduniaan, tidak jarang pula dimilikinya akal,
perasaan dan kemauannya semua ini dapat diatasi. Maka dengan suasana ini
manusia dapat bergerak untuk menuju tujuan (teleologis) dalam hal ini untuk
mendekatkan diri pada supernatural (Tuhan) yang merupakan pencipta manusia itu
sendiri dan merupakan tujuan akhir.
Perenialisme
berpendapat bahwa segala sesuatu yang dapat diketahui dan merupakan kenyataan
adalah apa yang terlindung pada kepercayaan. Kebenaran adalah sesuatu yang
menunjukkan kesesuaian tara pikir dengan benda-benda. Benda-benda disini
maksudnya adalah hal-hal yang adanya bersendikan atas prinsip-prinsip
keabadian. lni berarti bahwa perhatian mengenai kebenaran adalah perhatian
mengenai esensi dari sesuatu. Kepercayaan terhadap kebenaran itu akan
terlindung apabila segala sesuatu dapat diketahui dan nyata. Jelaslah bahwa
pengetahuan itu merupakan hal yang sangat penting karena ia merupakan
pengolahan akal pikiran yang konsekuen.
Menurut
perenialisme filsafat yang tertinggi adalah ilmu metafisika. Sebab science
sebagai ilmu pengetahuan menggunakan metode induktif yang bersifat analisa
empiris kebenarannya terbatas, relatif atau kebenaran probability. Tetapi
filsafat dengan metode deduktif bersifat anological analysis, kebenaran yang
dihasilkannya bersifat self evidence universal, hakiki dan berjalan dengan
hukum-hukum berpikir sendiri yang berpangkal pada hukum pertama, bahwa
kesimpulannya bersifat mutlak asasi.
Perenialisme
memandang masalah nilai berdasarkan azas-azas supernatural, yakni menerima
universal yang abadi. Dengan azas seperti itu, tidak hanya ontologi dan
epistemologi yang didasarkan atas prinsip teologi dan supernatural, melainkan
juga aksiologi. Khususnya dalam tingkah laku manusia, maka manusia sebagai
subyek telah memiliki potensi-potensi kebaikan sesuai dengan kodratnya, di
samping itu adapula kecenderungan-kecenderungan dan dorongan-dorongan kearah
yang tidak baik. Masalah nilai itu merupakan hal yang utama dalam perenialisme,
karena ia berdasarkan pada azas-azas supernatural yaitu menerima universal yang
abadi, khususnya tingkah laku manusia. Jadi hakikat manusia itu yang
pertama-tama adalah pada jiwanya. Oleh karena itulah hakekat manusia itu juga
menentukan hakikat perbuatan-perbuatannya, dan persoalan nilai adalah persoalan
spiritual. Dalam aksiologi, prinsip pikiran itu bertahan dan tetap berlaku.
Secara etika, tindakan itu ialah yang bersesuaian dengan sifat rasional seorang
manusia, karena manusia itu secara alamiah condong kepada kebaikan.
Jadi manusia
sebagai subyek dalam bertingkah laku, telah memiliki potensi kebaikan sesuai
dengan kodratnya, di samping adapula kecenderungan-kecenderunngan dan
dorongan-dorongan kearah yang tidak baik. Tindakan yang baik adalah yang
bersesuaian dengan sifat rasional (pikiran) manusia. Kodrat wujud manusia yang
pertama-tama adalah tercermin dari jiwa dan pikirannya yang disebut dengan
kekuatan potensial yang membimbing tindakan manusia menuju pada Tuhan atau
menjauhi Tuhan, dengan kata lain melakukan kebaikan atau kejahatan, Kebaikan
tertinggi adalah mendekatkan diri pada Tuhan sesudah tingkatan ini baru
kehidupan berpikir rasional.
PERENIALISME
DALAM PEMBENTUKAN MENTAL PENDIDIDKAN
Dalam bidang
pendidikan perennialisme sangat dipengaruhi oleh tokoh-tokohnya, seperti Plato,
Aristoteles dan Thomas Aquinas. Menurut Plato, manusia secara kodrat memiliki
tiga potensi yaitu nafsu, kemauan dan pikiran, Pendidikan hendaknya
berorientasi pada potensi itu dan kepada masyarakat, agar supaya kebutuhan yang
ada pada setiap lapisan masyarakat bisa terpenuhi.Dengan demikian jelaslah
bahwa perenialisme itu menghendaki agar pendidikan disesuaikan dengan keadaan
manusia yang mempunyai nafsu, kemauan dan pikiran sebagaimana yang dimiliki
secara kodrat. Dengan memperhatikan hal ini, maka pendidikan yang berorientasi
pada potensi dan masyarakat akan dapat terpenuhi.
Ide-ide Plato
ini kemudian dikembangkan oleh Aristoteles dengan lebih mendekatkan kepada
dunia kenyataan, Bagi Aristoteles tujuan pendidikan adalah
"kehahagiaan". Untuk mencapai pendidikan itu, maka aspek jasmani,
emosi dan intelek harus di kembangkan secara seimbang. Sejalan dengan uraian di
atas, Zuhairini Arikunto juga berpendapat dalam bukunya Filsafat Pendidikan Islam,
mengatakan tujuan pendidikan yang dikehendaki oleh Thomas Aquinas ialah
sebagai usaha mewujudkan kapasitas yang ada dalam individu agar menjadi
aktualitas, aktif dan nyata, dalam hal ini peranan guru adalah mengajar dan
memberikan bantuan pada anak didik untuk mengembangkan potensi-potensi yang ada
padanya.
Menurut Robert
Hutchkins bahwa manusia adalah animal rasionale, maka tujuan pendidikan adalah
mengembangkan akal budi supaya anak didik dapat hidup penuh kebijaksanaan demi
kebaikan hidup itu sendiri. Oleh karenanya tujuan pendidikan di sekolah perlu
sejalan dengan pandangan dasar di atas, mempertinggi kemampuan anak untuk
memiliki akal sehat.
Dapatlah
disimpulkan bahwa tujuan dari pada pendidikan yang hendak dicapai oleh para
ahli tersebut di atas adalah untuk mewujudkan agar anak didik dapat hidup
bahagia demi kebaikan hidupnya sendiri. Jadi dengan akalnya dikembangkan maka
dapat mempertinggi kemampuan akal pikirannya. Dari prinsip-prinsip pendidikan
perenialisme tersebut maka perkembangannya telah mempengaruhi sistem pendidikan
modern, seperti pembagian kurikulum untuk sekolah dasar, menengah, perguruan
tinggi. Di zaman kehidupan modern ini banyak menimbulkan krisis diberbagai
bidang kehidupan manusia, terutama dalam bidang pendidikan. Untuk mengembalikan
keadaan krisis ini, maka perenialisme memberikan jalan keluar yaitu berupa
kembali kepada kebudayaan masa lampau yang dianggap cukup ideal dan teruji
ketangguhannya. Untuk itulah pendidikan harus lebih banyak mengarahkan pusat
perhatiannya kepada kebudayaan ideal yang telah teruji dan tangguh. Jelaslah
bila dikatakan bahwa pendidikan yang ada sekarang ini perlu kembali kepada masa
lampau, karena dengan mengembalikan kepada masa lampau ini, kebudayaan yang
dianggap krisis ini dapat teratasi melalui perenialisme karena ia dapat
mengarahkan pusat perhatiannya pada pendidikan zaman dahulu dengan sekarang.
Perenialisme memandang pendidikan sebagai jalan kembali atau proses
mengembalikan keadaan sekarang. Perenialisme memberikan sumbangan yang
berpengaruh baik teori maupun praktek bagi kebudayaan dan pendidikan zaman
sekarang. Dari pendapat ini sangatlah tepat jika dikatakan bahwa perenialisme
memandang pendidikan itu sebagai jalan kembali yaitu sebagai suatu proses
mengembalikan kebudayaan sekarang (zaman modern) in terutama pendidikan zaman
sekarang ini perlu dikembalikan kemasa lampau.
Perenialisme
merupakan aliran filsafat yang susunannya mempunyai kesatuan, di mana
susunannya itu merupakan hasil pikiran yang memberikan kemungkinan bagi
seseorang untuk bersikap yang tegas dan lurus. Karena itulah perenialisme
berpendapat bahwa mencari dan menemukan arah tujuan yang jelas merupakan tugas
yang utama dari filsafat khususnya filsafat pendidikan. Setelah perenialisme
menjadi terdesak karena perkembangan politik industri yang cukup berat timbulah
usaha untuk bangkit kembali, dan perenialisme berharap agar manusia kini dapat
memahami ide dan cita filsafatnya yang menganggap filsafat sebagai suatu azas
yang komprehensif Perenialisme dalam makna filsafat sebagai satu pandangan
hidup yang berdasarkan pada sumber kebudayaan dan hasil-hasilnya.
Pandangan Perenialisme dan Penerapannya
di Bidang Pendidikan. Ilmu pengetahuan merupakan filsafat
yang tertinggi menurut perenialisme, karena dengan ilmu pengetahuanlah seseorang
dapat berpikir secara induktif yang bersifat analisa. Jadi dengan berpikir maka
kebenaran itu akan dapat dihasilkan melalui akal pikiran. Menurut epistemologi
Thomisme sebagian besarnya berpusat pada pengolahan tenaga logika pada pikiran
manusia. Apabila pikiran itu bermula dalam keadaan potensialitas, maka dia
dapat dipergunakan untuk menampilkan tenaganya secara penuh.
Jadi
epistemologi dari perenialisme, harus memiliki pengetahuan tentang pengertian
dari kebenaran yang sesuai dengan realita hakiki, yang dibuktikan dengan
kebenaran yang ada pada diri sendiri dengan menggunakan tenaga pada logika
melalui hukum berpikir metode deduksi, yang merupakan metode filsafat yang
menghasilkan kebenaran hakiki, dan tujuan dari epistemologi perenialisme dalam
premis mayor dan metode induktifnya sesuai dengan ontologi tentang realita
khusus.
Menurut
perenialisme penguasaan pengetahuan mengenai prinsip-prinsip pertama adalah
modal bagi seseorang untuk mengembangkan pikiran dan kecerdasan.
Prinsip-prinsip pertama mampu mempunyai penman sedemikian, karena telah
memiliki evidensi diri sendiri.Dengan pengetahuan, bahan penerangan yang cukup,
orang akan mampu mengenal faktor-faktor dengan pertautannya masing-masing
memahami problema yang perlu diselesaikan dan berusaha untuk
mengadakan
penyelesaian masalahnya. Dengan demikian ia telah mampu mengembangkan suatu
paham.
Anak didik yang
diharapkan menurut perenialisme adalah mampu mengenal dan mengembangkan
karya-karya yang menjadi landasan pengembangan disiplin mental. Karya-karya ini
merupakan buah pikiran tokoh-tokoh besar pada masa lampau. Berbagai buah
pikiran mereka yang oleh zaman telah dicatat menonjol dalam bidang-bidang
seperti bahasa dan sastra, sejarah, filsafat, politik, ekonomi, matematika,
ilmu pengetahuan alam dan lain-lainnya, telah banyak yang mampu memberikan
ilmunisasi zaman yang sudah lampau.
Dengan
mengetahui tulisan yang berupa pikiran dari para ahli yang terkenal tersebut,
yang sesuai dengan bidangnya maka anak didik akan mempunyai dua keuntungan
yakni:
1. Anak-anak
akan mengetahui apa yang terjadi pada masa lamp au yang telah dipikirkan oleh
orang-orang besar.
2. Mereka
memikirkan peristiwa-peristiwa penting dan karyakarya tokoi1tersebut untuk
diri sendiri dan sebagai bahan pertimbangan (reverensi) zaman sekarang.
Jelaslah bahwa
dengan mengetahui dan mengembangkan pemikiran karya-karya buah pikiran para
ahli tersebut pada masa lampau, maka anak-anak didik dapat mengetahui bagaimana
pemikiran para ahli tersebut dalam bidangnya masing-masing dan dapat mengetahui
bagaimana peristiwa pada masa lampau tersebut sehingga dapat berguna bagi diri
mereka sendiri, dan sebagai bahan pertimbangan pemikiran mereka pada zaman
sekarang ini. Hal inilah yang sesuai dengan aliran filsafat perenialisme
tersebut. Tugas utama pendidikan adalah mempersiapkan anak didik ke arah
kemasakan. Masak dalam arti hidup akalnya. Jadi akal inilah yang perlu mendapat
tuntunan kearah kemasakan tersebut. Sekolah rendah memberikan pendidikan dan
pengetahuan serba dasar. Dengan pengetahuan yang tradisional seperti membaca,
menulis dan berhitung anak didik memperoleh dasar penting bagi
pengetahuan-pengetahuan yang lain.
Sekolah sebagai
tempat utama dalam pendidikan yang mempersiapkan anak didik ke arah kemasakan
melalui akalnya dengan memberikan pengetahuan. Sedangkan sebagai tugas utama
dalam pendidikan adalah guru-guru, dimana tugas pendidikanlah yang memberikan
pendidikan dan pengajaran (pengetahuan) kepada anak didik. Faktor keberhasilan
anak dalam akalnya sangat tergantung kepada guru, dalam arti orang yang telah
mendidik dan mengajarkan. Adapun mengenai hakikat pendidikan tinggi ini, Robert
Hutchkins mengutarakan lebih lanjut, bahwa kalau pada abad pertengahan filsafat
teologis, sekarang seharusnya bersendikan filsafat metafisika. Filsafat ini
pada dasarnya adalah cinta intelektual dari Tuhan. Di samping itu, dikatakan
pula bahwa karena kedudukan sendi-sendi tersebut penting maka perguruan tinggi
tidak seyogyanya bersifat utilistis.
Dari ungkapan
yang diutarakan oleh Robert Hutchkins di atas mengenai hakikat pendidikan
tinggi itu, jelaslah bahwa pendidikan tinggi sekarang ini hendaklah berdasarkan
pada filsafat metafisika yaitu filsafat yang berdasarkan cinta intelektual dari
Tuhan. Kemudian Robert Hutchkins mengatakan bahwa oleh karena manusia itu pada
hakikatnya sama, maka perlulah dikembangkan pendidikan yang sama bagi semua
orang, ini disebut pendidikan umum (general education). Melalui kurikulum yang
satu serta proses belajar yang mungkin perlu disesuaikan dengan sifat tiap
individu, diharapkan tiap individu itu terbentuk atas dasar landasan kejiwaan
yang sama.
Sumber:
Tidak ada komentar:
Posting Komentar